Cerita Hati (Pertolongan Allah)

Oleh : Indriyatna Sugiyarta

“Tentu saya dan keluarga bersyukur akhirnya adik dapat meraih cita-citanya untuk menggapai pendidikan tinggi. Dari kisah ini tentu ada ibroh yang dapat diambil hikmahnya.”

Ditengah hingar-bingar perhelatan akbar final sepak bola Piala Dunia 2006 di Jerman, saya justru dikejutkan ketika membaca surat kabar di Bandung, tentang hasil Ujian Akhir Nasional (UN) Tingkat SLTA di bulan Juni ini. Begitu pula waktu media massa baik tv, internet, mulai menayangkan hasil-hasil ujian itu, bagi yang telah lulus tentu tidak menjadi persoalan yang pelik bahkan sudah menjadi kebiasaan yang turun temurun dengan merayakannya lewat konvoi keliling kota atau corat-coret baju seragam. Fenomena yang mengusik saya, ketika ada siswa yang sampai mau bunuh diri, membakar sekolah, mengalami depresi, yang lebih ironis justru ada siswa yang tergolong pandai tidak jadi lulus gara-gara nilai salah satu mata pelajaran UN, tidak sesuai dengan passing grade yang ditetapkan. Yang menjadi pertanyaan saya ada apa dengan pendidikan kita? Tentu kisah ini pelajaran yang harus dicari akar penyebabnya dan solusi pemecahannya.

Sebenarnya kisah ini mengingatkan saya ketika membaca buku best seller di Jepang berjudul ”Toto Chan Gadis Cilik di Jendela” karya Tetsuko Kuroyanagi yang mengisahkan tentang konsep sekolah alam, dimana siswanya diberikan kebebasan belajar dalam mengembangkan ilmunya dan dapat langsung diaplikasikan dalam lingkungan sekolah tersebut. Buku itu juga mengisahkan seorang Toto Chan yang selalu mempertanyakan segala sesuatu tentang pendidikan yang sedang digelutinya. Apakah benang kusut pendidikan kita harus belajar dari seorang Toto Chan pikirku dalam hati. Kembali memoriku teringat pada adik ke-3 alias si Thole yang masih imut-imut hingga saat ini untuk seangkatan teman-temannya yang lulus dari SMA tahun 2000 di Bandung waktu itu. Yach kisah tentang hasil UN 2006 ini, sebenarnya sama dengan si bungsu waktu lulus tahun 2000, nilai matematikanya 2,8, jika ada lorong waktu seperti salah satu sinetron di salah satu tv swasta kita, mungkin Thole tidak lulus jika dia lulus tahun 2006 ini pikirku menerawang jauh.

Saya jadi teringat waktu dia lulus, terus berjuang untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi dari ikut tes penerimaan UMPTN 2000, program-program D3 di PTN Bandung. Ibarat ikhtiar semua sudah dijalani, hingga akhirnya saat tiba pengumuman, ternyata tidak ada satu pun yang diterima sedangkan teman-temannya banyak yang ketrima di PTN. Tentu dengan usia yang masih remaja belia waktu itu, sekitar 18 tahunan, dia mengalami depresi berat, hingga rambutnya gondrong dan wajahnya terlihat kusut. Saya pun mulai mencari jalan keluar agar adik bisa melanjutkan ke pendidikan tinggi lagi. Alhamdulillah, waktu itu masih ada penerimaan program D1 pertanahan di suatu institusi pendidikan kedinasan di kota Yogya. Saya luangkan ke kota gudeg waktu itu, untuk mendapatkan brosur dan informasi tentang pendidikan ini. Setelah sampai di Bandung lagi, saya pun terangkan kepada orang tua maupun si bungsu, tentang pendidikan D1 ini, awalnya adik menolak sebab hanya, D1?

Kemudian saya terangkan pada si Thole sembari saya tingkatkan mentalnya yang sedang down waktu itu. Hingga saya tempuh suatu strategi jitu, agar dia mau masuk sekolah itu yakni si Bungsu saya ajak jalan-jalan ke sekolah calon birokrat muda alias STPDN di Jatinangor. Ternyata strategi itu manjur, akhirnya adik mau mengikuti tes dan mengikuti pendidikan selama 1 tahun. Alhamdulilah setelah lulus tahun 2001 walau sempat menganggur 1 tahun karena dalam tes CPNS tahun 2001 tidak masuk. Dalam mengisi kekosongan kegiatan, adik masih diberi kemudahan oleh Allah Swt dalam memanfaatkan jeda waktu selama 1 tahun dengan kesibukan bekerja di institusi swasta. Hingga kembali kemudahan diberikan oleh Yang Maha Kuasa pada adik, seiring ulang tahun kemerdekaan negeri ini pada Agustus 2002. Kabar baik tentang tes CPNS yang berasal dari kakak kelas adik. Sewaktu masih belajar selama 1 tahun adik aktif di DKM masjid kampus, hingga kabar ada tes penerimaan datang dari kakak kelas sekaligus sahabat nya di DKM. Adanya kesempatan dan peluang itu tentu tidak disia-siakannya mengikuti tes lagi. Alhamdullilah, doa orang tua maupun kami sekeluarga dikabulkan oleh Allah, adik diterima menjadi PNS tahun 2003 di salah satu institusi pemerintah dengan penempatan di provinsi Sumatera Selatan. Wajah si bungsu tampak ceria ketika menyampaikan kabar itu kepada orang tua.

Subhanalah, setelah bekerja 1 tahun di Sumsel, bulan Agustus tahun 2004 adik kembali diberikan kemudahan dengan mendapatkan prioritas untuk tugas belajar atas nama lembaga, kembali ke kampus semula di lingkungan agraria/pertanahan di kota Yogya, tentu saya dan keluarga bersyukur akhirnya adik dapat meraih cita-citanya untuk menggapai pendidikan tinggi. Dari kisah ini tentu ada ibroh yang dapat diambil hikmahnya, sebagaimana firman Allah swt dalam (Q.S : Al Insyirah ayat 5-6) : ” Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” Wallahu a’lam bish showab

Satu Tanggapan

  1. salam, senang bertemu Anda melalui blog ini sy Agus Suhanto, tulisan yg bagus🙂 … salam kenal yaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: