Download nih


Cerita Hati-Pertolongan Allah

Soal Matematika – TEORI HIMPUNAN


Keutamaan Bersedekah

Cerita hati

Soal Matematika – Telaah Kurikulum Mat SMI

Soal Matematika – ALJABAR MATRIK

Jadwal sholat

30 perkara mengenai wanita yang anda perlu tahu

Calon Istri Ideal

31 JURUS MENYEMPURNAKAN PC

Perempuan Dilarang Menangis

Nikah Cepat Atau Nikah Tepat

Cerita Hati – Mengenal Allah

Mendapat Waktu dan Uang

Puisi Cinta

RADJA-PATAH HATI

SHOLAT FARDHU

Rahasia – Rahasia Besar Sholat yang belum kita sadari

Tips – kiat menghadapi gempa

Wah-mancing

Contoh Laporan KKN – COVER ISI LAPORAN KKN

Contoh Laporan KKN – TATA TERTIB

Contoh Laporan KKN – DAFTAR GAMBAR

Contoh Laporan KKN – Buku Tamu

Contoh Laporan KKN – HALAMAN

Contoh Laporan KKN – Buku KEG HARIAN

Contoh Laporan KKN – SUSUNAN PENGURUS KKN

Contoh Laporan KKN – ABSEN KLPK

Contoh Laporan KKN – FOTO

Contoh Laporan KKN – HALAMAN

Teka – Teki 7

Teka – Teki 8

Teka – Teki 9

Teka – Teki 11

Teka – Teki 5

Teka – Teki 6

Teka – Teki 4

Teka – Teki 13

Teka – Teki 12

Teka – Teki 10

TEka – Teki 19

Teka – Teki 18

Teka – Teki 23

TEka – Teki 24

Teka – Teki 20

Teka – Teki 17

Teka – Teki 21

Teka – Teki 16

Teka – Teki 15

Teka – Teki 22

KISAH BERPISAHNYA ROH DARI JASAD

Roh

Dalam sebuah hadith daripada Aisyah r.a katanya, “Aku sedang duduk bersila di dalam rumah. Tiba-tiba Rasulullah S.A.W datang dan masuk sambil memberi salam kepadaku. Aku segera bangun kerana menghormati dan memuliakannya sebagaimana kebiasaanku di waktu baginda masuk ke dalam rumah. Nabi S.A.W bersabda, “Duduklah di tempat duduk, tidak usahlah berdiri, wahai Ummul Mukminin.” Maka Rasulullah S.A.W duduk sambil meletakkan kepalanya di pangkuanku, lalu baginda berbaring dan tertidur.

Maka aku hilangkan uban pada janggutnya, dan aku dapat 19 rambut yang sudah putih. Maka terfikirlah dalam hatiku dan aku berkata, “Sesungguhnya baginda akan meninggalkan dunia ini sebelum aku sehingga tetaplah satu umat yang ditinggalkan olehnya nabinya.” Maka aku menangis sehingga mengalir air mataku jatuh menitis pada wajah baginda.

Baginda terbangun dari tidurnya seraya bertanya, “Apakah sebabnya sehingga engkau menangis wahai Ummul Mukminin?” Masa aku ceritakan kisah tadi kepadanya, lalu Rasulullah S.A.W bertanya, “Keadaan bagaimanakah yang hebat bagi mayat?” Kataku, “Tunjukkan wahai Rasulullah!”

Rasulullah S.A.W berkata, “Engkaulah katakan!,” Jawab Aisyah r.a : “Tidak ada keadaan lebih hebat bagi mayat ketika keluarnya mayat dari rumahnya di mana anak-anaknya sama-sama bersedih hati di belakangnya. Mereka sama-sama berkata, “Aduhai ayah, aduhai ibu! Ayahnya pula mengatakan: “Aduhai anak!”

Rasulullah S.A.W bertanya lagi: “Itu juga termasuk hebat. Maka, manakah lagi yang lebih hebat daripada itu?” Jawab Aisyah r.a : “Tidak ada hal yang lebih hebat daripada mayat ketika ia diletakkan ke dalam liang lahad dan ditimbuni tanah ke atasnya. Kaum kerabat semuanya kembali. Begitu pula dengan anak-anak dan para kekasihnya semuanya kembali, mereka menyerahkan kepada Allah berserta dengan segala amal perbuatannya.” Rasulullah S.A.W bertanya lagi, “Adakah lagi yang lebih hebat daripada itu?” Jawab Aisyah, “Hanya Allah dan Rasul-Nya saja yang lebih tahu.”

Maka bersabda Rasulullah S.A.W : “Wahai Aisyah, sesungguhnya sehebat-hebat keadaan mayat ialah ketika orang yang memandikan masuk ke rumahnya untuk emmandikannya. Maka keluarlah cincin di masa remaja dari jari-jarinya dan ia melepaskan pakaian pengantin dari badannya. Bagi para pemimpin dan fuqaha, sama melepaskan serban dari kepalanya untuk dimandikan.

Di kala itu rohnya memanggil, ketika ia melihat mayat dalam keadaan telanjang dengan suara yang seluruh makhluk mendengar kecuali jin dan manusia yang tidak mendengar. Maka berkata roh, “Wahai orang yang memandikan, aku minta kepadamu kerana Allah, lepaskanlah pakaianku dengan perlahan-lahan sebab di saat ini aku berehat dari kesakitan sakaratul maut.” Dan apabila air disiram maka akan berkata mayat, “Wahai orang yang memandikan akan roh Allah, janganlah engkau menyiram air dalam keadaan yang panas dan janganlah pula dalam keadaan sejuk kerana tubuhku terbakar dari sebab lepasnya roh,” Dan jika merea memandikan, maka berkata roh: “Demi Allah, wahai orang yang memandikan, janganlah engkau gosok tubuhku dengan kuat sebab tubuhku luka-luka dengan keluarnya roh.”

Apabila telah selesai dari dimandikan dan diletakkan pada kafan serta tempat kedua telapaknya sudah diikat, maka mayat memanggil, “Wahai orang yang memandikanku, janganlah engkau kuat-kuatkan dalam mengafani kepalaku sehingga aku dapat melihat wajah anak-anakku dan kaum keluargaku sebab ini adalah penglihatan terakhirku pada mereka. Adapun pada hari ini aku dipisahkan dari mereka dan aku tidakakan dapat berjumpa lagi sehingga hari kiamat.”

Apabila mayat dikeluarkan dari rumah, maka mayat akan menyeru, “Demi Allah, wahai jemaahku, aku telah meninggalkan isteriku menjadi janda, maka janganlah kamu menyakitinya. Anak-anakku telah menjadi yatim, janganlah menyakiti mereka. Sesungguhnya pada hari ini aku akan dikeluarkan dari rumahku dan meninggalkan segala yang kucintai dan aku tidak lagi akan kembali untuk selama-lamanya.”

Apabila mayat diletakkan ke dalam keranda, maka berkata lagi mayat, “Demi Allah, wahai jemaahku, janganlah kamu percepatkan aku sehingga aku mendengar suara ahliku, anak-anakku dan kaum keluargaku. Sesungguhnya hari ini ialah hari perpisahanku dengan mereka sehingga hari kiamat.”

Cerita Hati (Pertolongan Allah)

Oleh : Indriyatna Sugiyarta

“Tentu saya dan keluarga bersyukur akhirnya adik dapat meraih cita-citanya untuk menggapai pendidikan tinggi. Dari kisah ini tentu ada ibroh yang dapat diambil hikmahnya.”

Ditengah hingar-bingar perhelatan akbar final sepak bola Piala Dunia 2006 di Jerman, saya justru dikejutkan ketika membaca surat kabar di Bandung, tentang hasil Ujian Akhir Nasional (UN) Tingkat SLTA di bulan Juni ini. Begitu pula waktu media massa baik tv, internet, mulai menayangkan hasil-hasil ujian itu, bagi yang telah lulus tentu tidak menjadi persoalan yang pelik bahkan sudah menjadi kebiasaan yang turun temurun dengan merayakannya lewat konvoi keliling kota atau corat-coret baju seragam. Fenomena yang mengusik saya, ketika ada siswa yang sampai mau bunuh diri, membakar sekolah, mengalami depresi, yang lebih ironis justru ada siswa yang tergolong pandai tidak jadi lulus gara-gara nilai salah satu mata pelajaran UN, tidak sesuai dengan passing grade yang ditetapkan. Yang menjadi pertanyaan saya ada apa dengan pendidikan kita? Tentu kisah ini pelajaran yang harus dicari akar penyebabnya dan solusi pemecahannya.

Sebenarnya kisah ini mengingatkan saya ketika membaca buku best seller di Jepang berjudul ”Toto Chan Gadis Cilik di Jendela” karya Tetsuko Kuroyanagi yang mengisahkan tentang konsep sekolah alam, dimana siswanya diberikan kebebasan belajar dalam mengembangkan ilmunya dan dapat langsung diaplikasikan dalam lingkungan sekolah tersebut. Buku itu juga mengisahkan seorang Toto Chan yang selalu mempertanyakan segala sesuatu tentang pendidikan yang sedang digelutinya. Apakah benang kusut pendidikan kita harus belajar dari seorang Toto Chan pikirku dalam hati. Kembali memoriku teringat pada adik ke-3 alias si Thole yang masih imut-imut hingga saat ini untuk seangkatan teman-temannya yang lulus dari SMA tahun 2000 di Bandung waktu itu. Yach kisah tentang hasil UN 2006 ini, sebenarnya sama dengan si bungsu waktu lulus tahun 2000, nilai matematikanya 2,8, jika ada lorong waktu seperti salah satu sinetron di salah satu tv swasta kita, mungkin Thole tidak lulus jika dia lulus tahun 2006 ini pikirku menerawang jauh.

Saya jadi teringat waktu dia lulus, terus berjuang untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi dari ikut tes penerimaan UMPTN 2000, program-program D3 di PTN Bandung. Ibarat ikhtiar semua sudah dijalani, hingga akhirnya saat tiba pengumuman, ternyata tidak ada satu pun yang diterima sedangkan teman-temannya banyak yang ketrima di PTN. Tentu dengan usia yang masih remaja belia waktu itu, sekitar 18 tahunan, dia mengalami depresi berat, hingga rambutnya gondrong dan wajahnya terlihat kusut. Saya pun mulai mencari jalan keluar agar adik bisa melanjutkan ke pendidikan tinggi lagi. Alhamdulillah, waktu itu masih ada penerimaan program D1 pertanahan di suatu institusi pendidikan kedinasan di kota Yogya. Saya luangkan ke kota gudeg waktu itu, untuk mendapatkan brosur dan informasi tentang pendidikan ini. Setelah sampai di Bandung lagi, saya pun terangkan kepada orang tua maupun si bungsu, tentang pendidikan D1 ini, awalnya adik menolak sebab hanya, D1?

Kemudian saya terangkan pada si Thole sembari saya tingkatkan mentalnya yang sedang down waktu itu. Hingga saya tempuh suatu strategi jitu, agar dia mau masuk sekolah itu yakni si Bungsu saya ajak jalan-jalan ke sekolah calon birokrat muda alias STPDN di Jatinangor. Ternyata strategi itu manjur, akhirnya adik mau mengikuti tes dan mengikuti pendidikan selama 1 tahun. Alhamdulilah setelah lulus tahun 2001 walau sempat menganggur 1 tahun karena dalam tes CPNS tahun 2001 tidak masuk. Dalam mengisi kekosongan kegiatan, adik masih diberi kemudahan oleh Allah Swt dalam memanfaatkan jeda waktu selama 1 tahun dengan kesibukan bekerja di institusi swasta. Hingga kembali kemudahan diberikan oleh Yang Maha Kuasa pada adik, seiring ulang tahun kemerdekaan negeri ini pada Agustus 2002. Kabar baik tentang tes CPNS yang berasal dari kakak kelas adik. Sewaktu masih belajar selama 1 tahun adik aktif di DKM masjid kampus, hingga kabar ada tes penerimaan datang dari kakak kelas sekaligus sahabat nya di DKM. Adanya kesempatan dan peluang itu tentu tidak disia-siakannya mengikuti tes lagi. Alhamdullilah, doa orang tua maupun kami sekeluarga dikabulkan oleh Allah, adik diterima menjadi PNS tahun 2003 di salah satu institusi pemerintah dengan penempatan di provinsi Sumatera Selatan. Wajah si bungsu tampak ceria ketika menyampaikan kabar itu kepada orang tua.

Subhanalah, setelah bekerja 1 tahun di Sumsel, bulan Agustus tahun 2004 adik kembali diberikan kemudahan dengan mendapatkan prioritas untuk tugas belajar atas nama lembaga, kembali ke kampus semula di lingkungan agraria/pertanahan di kota Yogya, tentu saya dan keluarga bersyukur akhirnya adik dapat meraih cita-citanya untuk menggapai pendidikan tinggi. Dari kisah ini tentu ada ibroh yang dapat diambil hikmahnya, sebagaimana firman Allah swt dalam (Q.S : Al Insyirah ayat 5-6) : ” Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” Wallahu a’lam bish showab

LET’ S SAVE OUR NATION, START FROM YOUR SELF!!!!

Ada langkah lain yang perlu kita lakukan untuk menyelamatkan
bangsa kita :
1. yang mempunyai deposito bertahanlah dengan deposito anda.
Jangan ambil uang anda dari bank. Jika anda ikut ikutan mencairkan dana
anda maka akan terjadi bank rush, dan krisis keuangan akan semakin
parah.